Akar

Yang kini ditanam itu, sebelumnya dikubur dulu. Sebelum dikubur itu, ia pernah limbung hingga sekarat dan bernapas megap-megap. Sebelum demikian pula, ia pernah berpikir punya harapan dan percaya tangannya mampu meraih sesuatu.

Tapi lalu ia dicekik tanda tanya yang berakhir marah. Kehabisan udara sampai jatuh dan gelap mata, gelap matanya. Kemudian dikubur. Kemudian menumbuhkan pucuk. Kemudian ditanam alam dengan hujan dan matahari.

Sebenarnya, ia hanya jadi terbiasa. Setelah memuntahkan hidup dan mengosongkan kesadaran, rasa sakit jadi lebih mudah masuk untuk dimaafkan. Akar menggenggam alas untuk ia beri makan; ikhlas, ikhlas, ikhlas.

Iklan

Arti Mati

Arti
Apakah rasanya mati?
Mati
Masihkah aku berarti?

(Aku ingin lepas dari keberdayaan yang mengikatku untuk tumbuh. Tuanku, tak semua makhluk punya makna guna diteruskan hidup. Beberapa telah tebas dan ikhlas dari aral gendala. Di ujung beling, ada nyawa mengganggu redupku.)

Daun

Aku ingin menjadi daun yang kering dan gugur tanpa menyalahkan dahannya
tanpa marah pada angin-angin
tanpa melawan gemuruh hutan
tanpa mengais tanah untuk bisa lahir kembali

Aku ingin menjadi daun yang menggerisik dengan doa dan kata-kata baik
berbisik membawa pesan tentang waktu
tentang keindahan
tentang batas riuh-remuk
tentang tenang, pejam, dan istirahat panjang

Aku ingin menjadi daun yang kau selipkan di halaman buku
disalip antara plastik, kau hias pita metalik
terlupa di sudut rak karena bosan dan kau kecewa
“Buku jelek,” lalu kau tutup

Aku ingin menjadi daun yang rajin dimakan ulat
apakah aku juga akan ikut menjadi kupu?
atau dipanen dan dipintal, ditenun kain memeluk tubuh?
atau berlubang, kemudian dibuang?

Apakah daun pernah punya keinginan?

Maaf, Evelyn

evelyn_3_sm
Louisville Courier-Journal

Kukira, Evelyn hanya ingin keluar dari suatu siklus luka.

Evelyn tak ingin menambah luka yang muncul karena “keegoisannya” untuk merasa berhak merasakan luka. Itu akan melukai orang yang membuatnya terluka, dan kembalilah siklus luka berlanjut untuk bermuara lagi pada dirinya. Evelyn tak ingin menambah luka.

Ada orang-orang yang memang lahir menjadi akhir suatu siklus luka. Mendoakan karma berhenti saling membalas, mematikan sedih dan marah agar Tuhan memaafkan. Orang-orang itu lebih rendah dari apa pun sebab manusia butuh pijakan untuk bisa bahagia. Anak tangga tak melayang begitu saja.

Evelyn mencoret tiga kalimat sebelum lompat. Kebahagiaan bisa membingungkan bila tak biasa didapatkan. Sekarang aku mengerti kenapa terapisku bilang banyak penderita isu mental enggan bicara soal riwayatnya–sebab keluar dari kondisinya berarti menghadap dunia baru yang (mungkin) lebih cerah tapi asing lagi berbeda. Dan untuk mengenal itu sampai awam, butuh tenaga ekstra dibanding melepaskan cemas yang menyiksa. Seperti digulung ombak setelah mengagumi lautnya di pesisir pantai.

I don’t want anyone in or out of my family to see any part of me. Could you destroy my body by cremation? I beg of you and my family—don’t have any service for me or remembrance for me. My fiance asked me to marry him in June. I don’t think I would make a good wife for anybody. He is much better off without me. Tell my father, I have too many of my mother’s tendencies.

Barry meninggal enam dekade kemudian tanpa pernah menikah. Hadiah ulang tahunnya adalah kematian, usai kecup perpisahan masih menghadirkan senyum yang normal di wajah Evelyn.

Apakah kebahagiaan yang tak mampu ditampung tubuh akan tetap menjadi berkat? Atau malah mendorong jatuh dari lantai 86 dan jatuh di atas Cadillac?

Evelyn tak ingin melukai yang sudah sempurna. Tapi bagaimana bila kesempurnaan itu melukainya padahal ia merasa tak berhak merasakan luka? Kembali, Evelyn hanya ingin keluar dari suatu siklus luka.

Aku menemukan Evelyn sekitar sepuluh tahun lalu. Aku jahat karena mengkhianatinya dengan berusia lebih lama. Menyusun rencana dan menyelipkan harapan untuk kuat menahan berkat–sambil mendoakan karma berhenti saling membalas, mematikan sedih dan marah agar Tuhan memaafkan. Mencuri padu yang mustahil.

Sesungguhnya, sekarang aku tak tahu sedang menulis tentang siapa.

Koran

Ada koran yang tertinggal di rumah tua dan kosong
Pada siang ia disingkap matahari dari celah yang buram
Selembaran itu terlupa dibawa dan membentang di lantai
Bertahun-tahun lamanya diam

Kertasnya menguning dan tintanya kabur
Sulit terbaca berita tentang penggusuran di kaki-kaki gunung
Atau penculikan anak-anak
Dan iklan-iklan rumah yang menjebak setengah bohong

Di ujung-ujung lembarnya mengeriting
Di baliknya ada telur-telur serangga
Siapa meninggalkan koran dan membentangnya sendirian?

Ia telah lahir dari koran menjadi koran dalam seratus kehidupan
Bermula pohon ke mesin cetak, bungkus gorengan, bungkus toge dan cabai, alas tempat sampah, sumber bacaan, sumber permainan, selimut tidur, tambalan atap, kliping mahasiswa, pesawat terbang, lap kaca, dan peninggalan rumah tua

Pada bisu, koran hanya menunggu disapu
Dibuang kembali agar bisa lahir lagi, mungkin jadi koran lagi
Ia penuh tanpa istirah dari remuk-robek nasib,
pasrah meninggali selembar tubuh yang berai dan berkumpul untuk remuk-robek lagi

Terima Kasih

“Depresi itu karena kurang bersyukur!”

Kalau kalimat itu aku dengar (atau baca) setidaknya sampai enam bulan lalu, mungkin aku akan merasa kesal dan geleng-geleng kepala. Kalau kalimat itu dilontarkan tepat di hadapanku, dalam percakapan yang sedang kulakukan, mungkin aku akan protes dan menjelaskan panjang lebar bahwa depresi adalah masalah reaksi otak, merupakan sebab dan bukan akibat, dan tidak ada hubungannya dengan bersyukur. Itu kalau sampai enam bulan lalu.

Namun, setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya depresi dan bersyukur bisa dijelaskan dalam satu garis. Kalimat di atas terasa lebih masuk akal untukku sekarang, setelah sadar bahwa kebahagiaan yang ditawarkan dunia tidak akan pernah sebanding dengan kesedihan yang mungkin dibawanya. Life is not worth it, as simple as that. Dan bersyukur menjadi senjata pertahanan diri atas kenyataan itu–agar manusia bisa mencukup-cukupan kebahagiaan miliknya (yang sesungguhnya kecil dibanding kesedihan yang mungkin datang, dan bisa hilang kapan saja tanpa perlu ada usaha).

Please note that I’m mentally healthy, according to what my certified psychologist said.

Aku selalu salut pada manusia dengan jiwa penjudi, sebab aku tak suka risiko (padahal bekerja di industri terkait informasi risiko). Bagaimana caranya kamu percaya pada perhitungan-perhitunganmu sampai berani bertaruh? Bagaimana kamu bisa menghadapi peluang kehilangan segalanya hanya dalam satu permainan? Apakah penjudi pasti percaya diri, atau hanya belajar tampil poker face untuk menghadapi lawan?

Katakanlah ada tiga bola merah dan tiga bola biru. Bola merah berarti kebahagiaan dan bola biru berarti kesedihan. Kamu punya tiga kesempatan untuk mengambilnya, dengan catatan: permainan langsung berakhir bila kamu mendapat bola biru, dan bola merah tidak jadi berlaku bila kamu mendapat bola biru di kesempatan kedua atau ketiga. Akan tetapi, bola merah akan berlipat ganda keuntungannya bila kamu dapatkan terus-menerus. Dalam permainan ini, kamu boleh berhenti kapan pun kamu mau–saat sudah mendapat bola merah di kesempatan mengambil yang pertama, misalnya.

Kira-kira, kamu akan memilih bagaimana?

Tentu saja aku sendiri memilih untuk tidak ikut serta di permainan itu dari awal, hahaha. Selain karena tidak suka dengan risiko, sejak lama aku berprinsip bahwa happiness comes with sadness, vice versa, dan akan menjadi sangat egois bila aku hanya mengharapkan kebahagiaan sementara tak menerima kesedihan. Di lain sisi, kesedihan itu pula yang membuat kamu tahu apa hal yang membuatmu bahagia, kan? I just pray so God may give me things I can endure. And aside of being grateful about lovely things we have, don’t forget to say thanks about dreadful things we avoid.

Dua-puluh-empat. Rasanya lama sekali dan tidak ada apa pun yang berubah dariku. Sesungguhnya menyiksa, tapi ini perkara kurang bersyukur saja.

I was going to send many apologies through this post. But I decided to say thanks instead.. Just so I could help myself from the mess I made. God has given me a ton of opportunities; unfortunately I was, and I am, such a failure and a disgraceful creature without any good intention.

Thank you for letting me to be in your contact list. For letting me write shitty things here and there. For letting me have a job. And breathe the same air as you even though I don’t deserve it. Keep myself alive even though I’m insignificant. Talk to you. Hang out with you. Say things. For letting me open my mouth and see you in the eye. For letting me laugh and cry. For the hug and kiss. Everything.

Tadinya aku ingin bilang bahwa sejak lama aku telah mengurung diriku sendiri, sehingga tak mampu hidup semaksimal mungkin. Tapi sepertinya itu hanya pernyataan cari aman yang menyedihkan, bermain seolah-olah jadi korban padahal diri sendirilah yang salah dari awal.

So.. Just one apology.

I’m sorry for still being here.